Salah satu makhluk hidup ciptaan Allah yang dimasukan dalam spesies al insaan (manusia) bukan homo sapiens (manusia kera). Belajar dari bayi hingga kuliah di Surabaya. Rencana pingin kerja di Indonesia Timur malah terdampar di pulau kecil di Sumatera sejak 2010 lalu, yaitu di Pulau Batam.

Waktu saya kecil katanya Ibu dan Bapak tinggal di kota yang berbeda karena tuntutan pekerjaan. Jadi saya sering berpindah tempat kadang ikut Ibu di Madiun kadang ikut Bapak di Surabaya. Mungkin ini yang membuat saya jadi hobi traveling dan baru muncul ketika gabung di pencinta alam SMA. Di sini saya menemukan keluarga baru baik dalam urusan organisasi maupun diluar organisasi. Kecintaan saya terhadap alam Indonesia raya ini bangkit ketika saya dan teman-teman melakukan sebuah pendakian pertama di Gunung Welirang. Hamparan hijau hutan penghasil oksigen seluas mata memandang dan beratapkan birunya langit yang tak berujung  membuat saya merasa kecil. 

Blog ini adalah catatan perjalanan saya kadang juga saya sisipkan promo dari beberapa produk dan review produk yang saya pakai. Tentunya tak jauh dari urusan traveling atau adventure. Bonekpacker sebenarnya plesetan dan gabungan dari dua kata yang memiliki perbedaan bahasa, Bonek dan Backpacker.

Yang pertama Bonek merupakan kepanjangan dari Bondo Nekat berarti modal nekat. Diambil dari bahasa daerah kelahiran saya di Surabaya. Nama Bonek lebih populer di kalangan sepak bola di Indonesia sebagai suporter tim sepak bola Persebaya Surabaya. Saya memakai nama tersebut bukan untuk membawa nama suporter tersebut. Tetapi lebih cenderung kepada sebuah keyakinan akan suatu hal yang apabila dikerjakan secara serius dan benar walaupun bermodal pas-pasan disertai dengan doa insya allah akan membuahkan hasil.

Sedangkan packer di ambil dari backpacker dalam bahasa Inggris yang berarti orang yang melakukan perjalanan dengan tas ransel. Tas ransel tersebut sudah di seting untuk memuat kebutuhan selama beberapa hari. Backpacker sendiri lebih populer sebagai low budget traveler atau pelancong paket hemat yang lebih mementingkan kedamaian hati daripada sekedar cuci mata. Tak sedikit para backpacker menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan  dan terkadang harus ikut bekerja partime untuk menyambung hidup di tempat yang mereka kunjungi. 
Karena saya yang hanya modal nekat dan demi merealisasikan keinginan untuk jalan-jalan, makanya harus mencari alternatif liburan semurah dan seefisien mungkin (bukan pelit loh!). Saya bersyukur punya teman, saudara bahkan orang yang baru kenal di jalan yang mau membantu saya dalam memfasilitasi perjalanan saya. 

“Uang bukanlah segalanya dalam hidup. Dengan senyuman hangat, salam, dan tawa akan membantu menemukan perjalanan baru yang berarti.”