Saya sendiri pernah terkena Jelatang di beberapa pendakian. Ketika melakukan pendakian di Gunung Argopura di Situbondo 10 tahun yang lalu, kulit di tangan saya mengalami gatal-gatal dan panas. Rasanya seperti di tusuk-tusuk, semakin digaruk semakin perih. Anehnya tak ditemukan bekas luka atau bekas sengatan serangga. Berjam-jam harus merasakan perih dan gatal selama mendaki gunung terpanjang di Jawa itu, puncak kediaman Para Dewa.
****

Jelatang dengan daun bermiang yang beracun. Sumber

Jelatang memiliki nama latin  Toxicodendron radicans merupakan tanaman semak dengan daun bermiang yang hidup di daerah kelembaban tinggi. Bentuk daun Jelatang ada beberapa macam, ada yang menjari dan ada yang lurus. Tanaman ini tumbuh vertikal berbatang dengan ketinggian mulai 10 cm sampai 100 cm. Miang atau rambut halus di permukaan daun apabila tersentuh akan menyebabkan gatal dan panas. Jelatang kerap kali disamakan dengan Pulus, padahal secara morfologi saja sudah berbeda. Yang membuat sama adalah keduanya memiliki sistem pertahanan miang atau rambut halus beracun yang menyebabkan gatal dan panas.
 

Bentuk daun Jelatang. Sumber

Tanaman ini diklasifikasikan dalam Ordo: Sapindales, Famili: Anacardiaceace, Genus: Toxicodendron, Species: T. radicans. Dari genus-nya saja sudah terlihat beracun (toxic).

Jelatang memiliki nama lain di berbagai daerah di Nusantara. Seperti di Bengkulu, Jelatang digolongkan menjadi 3 berdasarkan kadar racunnya. Jelatang ayam merupakan jenis Jelatang dengan kadar racun rendah. Tanaman ini memiliki daun berukuran kecil. Kemudian Jelatang kambing memiliki kadar racun yang sedang. Tanaman ini memiliki ukuran daun yang lebih lebar. Dan yang terakhir Jelatang kerbau yang memiliki kadar racun paling tinggi. Nyerinya bisa sampai semingguan bahkan berminggu-minggu. Tanaman ini memiliki daun yang lebarnya hingga 30 cm.

Di Jawa Timur para pendaki menyebut Jelatang  sebagai Daun Jancukan atau Ri Jancukan (umpatan dalam bahasa Surabaya). Konon nama Jancukan diambil dari umpatan-umpatan yang keluar dari mulut mereka ketika tersengat Jelatang.

Di Bali, tanaman ini dikenal sebagai Lateng. Biasa ditanam di pinggir kebun sebagai pagar karena bisa mengusir hewan-hewan perusak hasil kebun.

Sebenarnya racun yang dihasilkan Jelatang adalah sebagai alat perlindungan diri terhadap hewan pemakan tumbuhan. Namun ada beberapa hewan yang dengan anteng menikmati Jelatang, seperti ulat kupu-kupu admiral dan kaisar. Karena mengandung kaya akan mineral yang dibutuhkan.

Secara kimiawi, Jelatang memiliki kandungan Monoridine, Tryptophan, Histidine, Alkaloid, Flavonoid, Asam Formiat dan Authraguinones. Asam formiat atau asam format-lah yang bertanggung jawab terhadap efek sengatan dari miang Jelatang. Asam format ditemukan juga pada lebah dan semut.

Banyak para pendaki gunung yang takut terhadap teror daun Jelatang. Karena medan yang terjal dan tertutup, membuat para pendaki terkadang kurang memperhatikan jenis tanaman apa saja yang ada di sebelahnya. Sehingga secara tidak sadar menyentuh permukaan kulit tangan maupun kaki. Kalau ketemu hewan buas masih bisa lari atau mempertahankan diri. Kalau ketemu satu Jelatang, pasti sudah banyak Jelatang yang lain  di sekitar yang mengepung.

Ada beberapa referensi cara mengatasi nyeri akibat sengatan Jelatang:
1. Mencabut rambut halus / miang di kulit dengan lakban atau nasi panas sehingga menempel
2. Menggunakan getah batang Jelatang sendiri
3. Menyeduh teh daun Jelatang yang sudah kering
4. Menggunakan minyak angin atau balsem.
5. Menggosok kulit ke rambut atau menggosok secara lembut dengan tanah.

Untuk lebih detail mengenai cara mengatasi gatal akibat daun Jelatang dan Pulus bisa membaca artikel ini.

Saya sendiri pernah terkena Jelatang di beberapa pendakian. Ketika melakukan pendakian di Gunung Argopura di Situbondo 10 tahun yang lalu, kulit di tangan saya mengalami gatal-gatal dan panas. Rasanya seperti di tusuk-tusuk, semakin digaruk semakin perih. Anehnya tak ditemukan bekas luka atau bekas sengatan serangga. Berjam-jam harus merasakan perih dan gatal selama mendaki gunung terpanjang di Jawa itu, puncak kediaman Para Dewa. Ternyata selama melewati jembatan pohon tumbang tadi saya menyenggol Jelatang. Di Gunung Argopura hampir setengah jalur pendakian akan di jumpai Jelatang.

Sebaik-baiknya obat, lebih baik kita menjaga agar tidak terkena Jelatang dengan cara menggunakan pakaian dan atribut yang mendukung seperti baju lengan panjang, celana panjang, sepatu, geiter, dan sarung tangan.

Baca juga Pulus Kerabat Jelatang si Daun Penyengat sehingga Sobat tahu seperti apa sih tanaman tersebut.

Jelatang si Daun Penyengat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *