Paralayang adalah salah satu olahraga terjun bebas menggunakan parasut dengan cara terjun dari tebing. Parasut harus dalam keadaan mengembang terlebih dahulu sebelum meluncur dari tebing karena di khawtirkan parasut tidak sempat terbuka bila meluncur duluan.

Prinsip kerja paralayang bergantung dari kekuatan angin yang mendorong naik parasut. Ada dua sumber kekuatan angin yang dimanfaatkan yaitu angin yang menabrak lereng (dynamic lift) dan angin yang bertiup karena perpindahan panas (thermal lift). Apabila kekuatan angin tidak mencukupi, maka penerbangan akan di tunda sampai kekuatan angin yang diijinkan terpenuhi.

Olahraga ini hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa yang telah memiliki skill dan sertifikasi ijin terbang paralayang. Tidak sembarang orang boleh melakukan olah raga ini tentunya. Namun jangan berkecil hati, karena Sobat yang belum punya skill dan sertifikasi pun bisa mencobanya dengan di dampingi instruktur secara tandem.
Olahraga ini bisa memacu adrenalin dan bikin ketagihan bagi penggunanya. Saya sendiri baru pertama mencoba sudah ketagihan ingin mengulanginya lagi. Namun dana yang dibutuhkan tak sepadan dengan lama waktu penerbanga. Mengapa? Karena lamanya penerbangan bergantung dari kekuaatan angin yang ada. Kalau anginnya pas di tengah jalan kurang bagus, pasti instrukstur melakukan landing secara perahan untuk menghindari kemungkinan terburuknya.
Awalnya kami punya dua pilihan untuk libur bersama teman-teman alumni pencinta alam di SMA yaitu rafting di Probolinggo atau Paralayang di Batu. Akhirnya kami semua sepakat untuk pergi bermain paralayang sebelum saya balik lagi ke Batam. Karena beberapa dari kami sudah pernah main rafting dan kondisi Suci yang sedang hamil tidak memungkinkan untuk ikut rafting.
Saat itu kami berenam menggunakan motor dengan formasi Cecep dengan Saya, Tobes dengan Dirjo, dan Coy dengan Suci yang lagi hamil 3 bulan. Kami berkumpul di depan Alun-alun Sidoarjo jam 8 pagi. Setelah mengisi perbekalan di salah satu supermarket yang menjamur di Indonesia, kami langsung tancap gas menuju ke Kota Batu di Kabupaten Malang.
Berhubung ini merupakan kunjungan pertama, kami sering berhenti untuk menanyakan lokasi take off Paralayang. Setelah kami ketahui ternyata nama lokasinya di Gunung Banyak.  Perjalanan ke sini menguras tenaga motor kami. Jalan yang menanjak menyebabkan Septian harus turun untuk membantu mendorong motor. Setelah itu, ketika memasuki ke desa yang di tunjuk oleh plang petunjuk, jalanan hanya cukup 2 mobil mepet. Maksudnya bila ada mobil lain harus memotong keluar dari aspal. Selama melewati pedesaan kami disuguhkan kebun-kebun sayur warga setempat. Saat itu kebetulan sedang musim tanam kol. Setelah melewati pedesaan, jalan berubah menjadi tanah berbatu sepanjang 1 kilometer. Tak jauh setelah jalan aspal tadi ada petugas yang menarik retribusi masuk kawasan Paralayang Gunung Banyak. Kalau tidak salah Rp10.000 perorang. Barulah sampai di area parkir di wisata Paralayang Gunung Banyak.

Gunung Banyak adalah gunung kecil dengan ketinggian 1315 mdpl letaknya di Kecamatan Pujon, Kota Batu, Kab. Malang. Udara di sini sangat sejuk walaupun di bawah tadi banyak lalu-lalang kendaraan. Jalan utama kearah sini merupakan jalan alternatif yang menghubungkan Kediri dengan Malang. Di sekitar sini juga bnyak tempat wisata yang seru seperti BNS, Jatim Park, Museum Angkut, Songgoriti, Coban Rondo, Coban Rais, dan Gunung Panderman.

Sebelumnya kami sudah mendapat kontak person dari temannya Suci untuk booking. Harga paling murah sekali terbang Rp350.000 sudah termasuk asuransi, safety equipment, antar jemput  landing ke take off, dan sertifikat. Umumnya waktu penerbangan 10 menit bergantung dari kekuatan angin.
Satu persatu kami melakukan take off setelah fit and check equipment dengan isntruktur. Penerbang pertama adalah Suci, kemudian Coy, Saya, Dirjo, Randi, dan terakhir Septian. Kami bergantian terbang mengelilingi langit di atas dataran Gunung Banyak. Parasut mengembang dan saya berjalan perlahan sambil dibimbing instruktur yang berada di belakang saya kearah ujung bibir tebing. Keringat dingin sudah muncul disertai dentuman jantung yang semakin kuat ketika melihat ke bawah hanya ada pucuk-pucuk hutan yang terlihat seperti rumput. Bismillah, saya mantapkan diri untuk melangkah lebih berani. Dan,,, take off satu langkah terakhir saya tidak menyentuh landasan, ternyata saya sudah terangkat ke atas akibat dynamic lift.  
Sungguh pemandangan yang luar biasa menyaksikan keindahan kota Batu dari langit. Lama-lama saya terbiasa dengan kondisi melayang. Instruktur memberikan ijin kepada saya untuk memegang kendali dengan catatan jangan sampai lepas. Karena arah terbang mau naik atau turun bergantung dari kendali tersebut. Sebagai bonus, instruktur mengendalikan parasut agar kami terbang meliuk-liuk seperti sedang akrobat. (Pusing juga :D)
 
Ketika landing, posisi kaki harus sejajar dengan permukaan tanah, sehingga pantat harus jatuh menyentuh tanah terlebih dahulu. Yang paling mulus landingnya adalah Suci, karena dia lagi hamil jadi instruktur harus benar-benar hati-hati dalam landing.  Masing-masing mendapatkan jatah terbang yang berbeda rata-rata 5 menit saja. Wow!! 5 menit hanya Rp350.000. Bisa untuk terbang Surabaya – Bali nih canda kami. Tapi harga tersebut sudah menjawab rasa penasaran kami. Dan kami semua ketagihan ingin mengulang lagi.

On flight
di landasan landing

Dari tempat landing, kami diantar ke tempat take off di Gunung Banyak dengan ojek yang telah disediakan oleh pengelola. Kebetulan saya dapet tukang ojek yang mengendarai motor trail. Seru juga naik motor trail kebut-kebutan brisikin kampung bahkan saya diajak melewati kuburan untuk jalan pintas. hohohoho! serem juga kalu jatuh nyungsep di batu nisan.

Setibanya di puncak, kami menikmati pemandangan sekitar lagi sebelum pulang ke Surabaya. Banyak juga anak-anak kecil yang masih seusia SD berani mencoba paralayang. Dibandingkan dengan penerbangan kami, anak-anak tersebut malah lebih lama. Bahkan lebih jauh jarak terbangnya.
Lebih dari sekedar sahabat yang selalu hadir tiap saya minta jalan-jalan.
Kami pun kembali membawa pengalaman baru menuju Surabaya naik motor berbaris rapi 1 jalur kebelakang supaya tidak mengganggu lalu lintas. Kami berhenti di sebuah masjid di daerah Prigen sambil mengistirahatkan badan dan makan bakso yang sedang berhenti di depan masjid. Harganya jauh berbeda dengan harga di Batam. Kalau di sini saya bisa dapat 2 kali. hehehe… Setelah keluar masjid,  ternyata ban motor yang saya kendarai kempes untuk kedua kalinya dan harus di tambal. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya dengan lancar sedikit ngantuk :P. Kami pun berpisah setelah memasuki alun-alun Sidoarjo ke rumah masing-masing.
Ingin merasakan serunya terbang dengan paralayang? Tonton video pendek ini dulu biar makin termotivasi. (Maaf, kualitas video diperkecil jadi akan muncul noise bila di full screen)
Mencoba Paralayang di Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *