Siapa yang tidak kenal keindahan Gunung Bromo yang bisa dinikmati dari puncak Gunung Pananjakan.  Gunung yang merupakan ikon pariwisata Jawa Timur ini mampu merayu para wisatawan asing utnuk datang jauh-jauh dari belahan bumi lain. Tak hanya keindahan sunrise,  tetapi juga lautan pasir di sekitar Gunung Bromo dan hijaunya tebing  yang mengelilingi lautan pasir.
Saya  sudah mengagendakan dalam cuti pulang ke Surabaya nanti harus naik gunung.  Tetapi jadwal dengan teman-teman yang tidak sesuai akhirnya harus ganti tujuan. Adik ipar saya tiba-tiba ingin ikut naik gunung setelah tahu saya mau naik gunung.  Karena dia belum punya pengalaman naik gunung, saya tawarin ke Bromo saja. Walaupun buat saya Bromo sudah sering  dikunjungi, sampai-sampai saya kesana seperti pindah makan.
Kami pergi berempat naik kendaraan roda dua berboncengan. Saya dengan Vera, Aan (Adik saya) dengan temannya). Kami pergi dari Ketintang jam 11.30 malam menuju di meeting point pertama SPBU Aloha, Sidoarjo. Setelah isi bensin, kami langsung meluncur ke meeting point ke 2 di simpang tiga Purwodadi-Bromo. Sekitar pukul 01.55 istirahat sejenak sambil cari bekal tambahan di minimarket. Dari sini jalan mulai gelap dengan melewati beberapa kampung.  Banyak tikungan dan jalanan menanjak disini jadi harus berhati-hati  dan konsentrasi karena ada beberapa lokasi yang licin akibat sisa tanah yang longsor.
Sampailah kami di pos perijinan TNBTS sekitar jam 3.30 pagi. Tiket masuk sekarang mengalami kenaikan drastis menjadi Rp60.000 per motor dua penumpang perhari. Setelah membayar tiket masuk, kami bergegas menuju puncak Gunung Pananjakan agar bisa kebagian tempat yang bagus.
Saya, Vera, Aan di Pananjakan

Sampai di puncak pananjakan! Sepi…. kami lah rombongan pertama yang datang. Coba cek altimeter di jam saya, menunjukan 2675 meter diatas permukaan laut. Selisih 100meteran dari yang tercantum di peta. Dan suhu 16 Celcius ( bukan suhu lingkungan karena masih nempel di tangan). Sambil menunggu matahari terbit, kami pejamkan mata sambil duduk. Terkadang kami terbangun karena suhunya makin dingin dan orang- orang berdatangan.

Ketika matahari terbit, semua orang berebutan mencari spot yang bagus untuk mengabadi momen  tersebut. Namun sayang, matahari tertutup oleh mendung di cakrawala jadi kurang bagus.

View dari Pananjakan
Puas mengambil foto, kami menuju ke gunung bromo melewati lautan pasir. Dengan kendaraan Beat dan Vario  (berasa disponsori oleh HONDA) kami melaju perlahan agar tidak selip dan terjatuh di pasir. Tips agar mudah berkendara di sini adalah dengan mengikuti jejak Hardtop/Mobil 4WD. Karena pasirnya sudah padat. Kalau ambil jalur lain, hati-hati saja. Yang penting jangan buat jalur sendiri. Karena merusak rumpu-rumput yang ada.

Sampai di parkiran Bromo, saya suruh adik saya dan temannya naik. Karena saya sudah sering kesitu, mending saya cari tempat untuk tidur di antara aliran sungai mati yang teduh.

Tak Terasa sudah 1 jam dan mereka sudah kembali. Sebelum keluar parkiran , saya bertanya kepada penjaga parkir tentang Bukit Teletubbies. Ternyata masih di daerah sini juga. Kami pun dengan semangat menuju ke sana. Cuma tempat ini yang bikin saya semangat, karena saya sendiri sudah sering ke Bromo tapi belum pernah ke bukit itu.
Subhanallah, berasa tidak di Indonesia. Tebing hijau tua di kiri jalan dan di kanan bukit-bukit hijau muda yang segar yang jarang di tumbuhi pohon pinus. Benar-benar seper

ti di film Teletubbies.

Saking indahnya, Vera hampir nangis katanya.
Bukit Teletubbies

Puas dengan secuil keindahan ini, kami pulang melewati jalur Cemoro Lawang  menuju ke Air Terjun Madakripura. Sayangnya sebelum sampai disana, hujan turun tiba-tiba sehingga kami membatalkan perjalanan kesana dan langsung pulang ke Surabaya.

14 Februari 2015
Salam dari Tanah Tengger buat Aliyah Labiqa Wahidah di dalam kandungan istri saya.

Lagi lagi ke Bromo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *