Pulau Awi berada pada wilayah kecamatan Piayu Laut dengan koordinat 0°58’27″N 104°6’44″E. Untuk mencapai ke sana harus menggunakan perahu. Berdasarkan refrensi yang saya dapat, biaya perorang PP Rp10.000,00. Ada apa saja di sana? Berikut perjalanan saya pada tanggal 29 Juni 2011.
Setelah sarapan saya dan Edwin menuju Rusun Jamsostek Muka Kuning. Di sana sudah ditunggu oleh Luqman dan Leo. Ternyata Leo mengajak Vina bergabung dengan kami. Pas mau berangkat Puri dan Alvin baru pulang habis mancing dari jembatan 1 Barelang. Mengetahui kami hendak ke Pulau, Puri bergegas packing dan ikut bersama kami. Lengkap sudah kami berenam dengan 3 motor menuju ke Piayu Laut.
Ini pertam kalinya Saya datang ke sini. Jalan utama sudah banyak yang rusak. Semakin dekat dengan Piayu Laut jalan beraspal mulus dan masih baru. Pemandangan yang sangat menakjubkan. Di kanan dan kiri jalan terhampar selat yang menghubungkan pulau-pulau kecil disekitarnya. Mulusnya jalan tak semulus akhirnya. Setelah melewati gapura yang belum jadi, jalan yang semula aspal berubah menjadi krikil halus yang licin ketika melewatinya. Butuh ekstra hati-hati di sini. Agar tidak terpeleset ketika menikung atau mengerem.

Sampai di Kampung Piayu Laut, Luqman menepikan motornya di halaman sebuah rumah. Saya bertanya kepada seorang ibu penjual ikan di rumah itu, kalau kami ingin ke Pulau itu(sambil menunjuk pulau yang ada pasir putihnya).
“Oh, Pulau Awi. Sebentar ya bang saya carikan yang punya pompong.” Jawab Ibu itu sambil berlari mencari pemilik pompong.
Seorang bapak keluar dan berkata, “Ke Pulau Awi bang? Berapa orang? Nanti di jemput sore kan?”

“Iya, Pak. Kami berenam. Berapa ya pak?” Jawab saya.

“Empat puluh saja.” Jawab Bapak itu.
 

Kami langsung menyetujui tarif yang di bebankan. Karena jauh lebih murah dari yang direfrensikan oleh teman di Blog saya. Sebelum berangkat, kami sempat bingung mau naik ke perahu dari mana? Ternyata ada tangga ke bawah yang tegak sampai ke air laut. Bagi kami yang laki-laki hal itu mungkin masih mudah. Satu persatu turun bergantian dan saling membantu. Kondisi Pompong yang gampang oleng membuat kami agak khawatir sekaligus memacu adrenalin. Berbeda dengan pompong yang di Sekupang. Ada life jacket yang bisa digunakan oleh penumpang yang hendak menyebrang.

Perjalanan ditempuh selama 5-10 menit. Pantai pasir putih mulai kelihatan tetapi sangat diluar dugaan. Beberapa makam Cina terlihat jelas di pinggir pantai. Semua langsung memasang wajah takut. Mendarat di Pulau Awi disambut oleh ombak kecil menggelitik kaki-kaki kami. Setelah pompong meninggalkan kami di pulau yang cuma dihuni oleh makam, wajah teman-teman masih ketakutan dan ragu. “Seperti di Air terjun Pengantin!!” cetus saya memecah keheningan sambil memburu objek dengan kamera pocket. Akhirnya semua terkendali dan kembali bersenang-senang. Kamera sudah saya cover dengan chasing underwater dan siap bertempur si dalam air laut. Namun sangant di sayangkan. Kondisi air yang agak keruh menghambat masuknya cahaya matahari sampai ke dasar. Sehingga hasil foto di bawah air juga kurang memuaskan. 

Berenang, foto-foto, main pasir, berenang lagi, foto-foto lagi, berenang lagi. Akhirnya Leo dan Luqman menjadi korban permainan pasir. Menjelang adzan Dzuhur, ada rombongan pompong yang datang untuk memancing. Mereka pindah spot karena tangkapannya kurang. Setelah makan siang, kami yang muslim menjalankan sholat dzuhur. Setelah itu teman-teman tidur siang , sedangkan Saya asyik memburu objek dan belajar teknik underwater.
Setelah bangun tidur, mereka berenang lagi. Apa lagi yang akan di kerjakan selain berenang? Kalau membawa pancing , kami bisa menyisipkan waktu untuk memancing. Tak terasa matahi mulai condong ke barat. Kulit kami pun mulai perih dan menghitam. Kami harus menghentikan trip kali ini agar tidak terlalu bosan dengan suasana Pulau. Leo menghubungi bapak tadi dengan ponselnya. Untuk di sini masih ada jaringan. Sebentar saja bapak tadi datang dan kami bergantian naik ke pompong. Lagi-lagi Saya duduk di haluan menghadap ke buritan. Ini tempat favorit saya. Walaupun panas matahari menyengat kulit, semua ini terbayar. I’m free!!!! 😀


Mungkin agak terlambat untuk memulai perkenalan dan menggali informasi. Namanya Pak Uk, Beliau dari kecil sudah ada di Piayu Laut, sebagai suku Laut. Sama seperti suku-suku laut lainnya, Rumha mereka di atas air laut, bagian bawah biasanya di buat pembudidayaan ikan. Pak Uk adalah pemilik pompon yang kami sewa. Menurut beliau, makam Cina tadi memang diletakkan di sana sebab di Kampung Piayu Laut tidak ada tempat yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai daerah makam. Bagi yang ingin berkunjung ke Pulau Awi bisa menghubungi Pak Uk. Lumayang kan dapat harga yang sangat terjangkau. 

Salam bonekpacker!

Pulau Awi : Peristirahatan Terakhir yang Indah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *