Deretan PKL Rujak Baloi

Siapa yang tidak tahu salah satu makanan yang identik dengan rasa pedasnya. Ada rujak buah, rujak sayur, rujak cingur, rujak pasrah, rujak soto, rujak Madura, dan masih banyak lagi. Hampir setiap daerah memiliki menu makanan khas rujak. Di Pulau Batam rujak yang disajikan bukan dari makanan khas sini, sebab di sini tempat para perantau. Belum lagi lahan yang susah untuk di tanami. Butuh beberapa waktu untuk bisa memetik hasil panen di pulau ini.

Liburan waisak saya sempatkan untuk berkeliling di daerah Baloi. Jalurnya tidak dilalui oleh angkutan umum jadi saya tidak pernah tahu. Kebetulan Edwin mengajak jalan-jalan dan mencari rujak cingur. Wih!!!! Mendengarnya sudah buat saya ngiler duluan. Jadi kangen dengan kampung halaman, karena makanan ini khas dari Surabaya. Kira-kira 200 meter dari simpang Baloi ke arah Batu ampar terdapat deretan PKL rujak. Ada rujak buah, rujak serut, rujak cingur, dan rujak kikil.

Rujak Cingur adalah kombinasi dari irisan buah-buahan, kangkung rebus, tempe goreng, lontong, cingur sapi rebus, dan bumbu rujaknya. Ada juga yang memilih tanpa buah atau disebut matengan agar lebih terasa seperti makanan berat. Nikmatnya rujak cingur belum lengkap kalau tidak makan dengan kerupuk. Paling pas dimakan siang hari saat udara sedang panas dan ditutup dengan minum segelas air putih.

Sudah tahu “Cingur” kan? Kalau belum tahu, saya akan sedikit menjelaskan. Cingur di ambil dari bahasa Jawa yang artinya hidung. Banyak orang-orang mengira cingur itu mulut padahal bukan. Jadi yang dipakai adalah hidung sapi yang sudah di bersihkan dari kotoran-kotoran kemudian di rebus sampai matang. Jangan jijik kalau sudah tahu atau malah tidak mau makan. Semua sudah melalui proses yang benar.

Di komplek PKL ini rata-rata harga seporsi rujak buah dan rujak pasrah Rp7.000,00 sedangkan untuk seporsi rujak cingur Rp10.000,00. Harganya 2 kali lipat dari harga di Surabaya namun terbayar kalau sudah disantap. Yang aneh adalah mereka yang menjual bukan berasal dari Surabaya atau orang Jawa timuran. Setelah saya telusuri, ternyata pemiliknya saja yang orang Jawa tapi yang menjaga orang Sumatra yang sikit-sikit bisa bahasa Jawa. 




Bila Anda yang sudah lama di Batam dan rindu dengan kuliner Jawa, tempat ini menjadi pilihan yang cocok untuk bersantap ria di siang yang panas. Mengingat suhu di Batam sangatlah panas pasti sangat cocok menikmatinya. Monggo diincipi riyen…. 🙂

Komplek Rujak di Baloi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *