Cerita ini masih lanjutan dari yang lalu, yang menceritakan survei kami ke Cagar Alam Pulau Sempu untuk persiapan trip. Walaupun trip yang Aku buat iseng-iseng, namun peminatnya lumayan lah… Yang sudah konfirmasi 8 peserta dari Himpro Satli FKH Udayana Bali sedangkan 8 peserta dari FKH UGM batal ikutan karena bertepatan dengan UTS.
Tema trip kali ini untuk memperkenalkan alam kepada teman-teman dengan melihat secara langsung dan apa adanya. Dengan beberapa acara yaitu bakar-bakar ikan hasil tangkapan nelayan, pengenalan Cagar Alam Pulau Sempu oleh petugasa BKSDA, tracking, reli foto, dan pengamatan satwa. 
2-4 April 2010
Jam 5.30 Aku mendapat sms dari Madan, ketua grup dari Hompro Satli Udayana yang mengabarkan kalau mereka sudah tiba di terminal Bungurasih Surabaya. Aku, Cepy, Inung, Angelo berangkat ke Stasiun Waru sambil mampir ke terminal menjemput mereka. Sedangkan Codak, Dirjo, dan Tobes menuju ke Stasiun Gubeng untuk bertemu dengan peserta dari Surabaya.  Kereta kali ini sangat penuh sekali hingga kami harus berdiri di dalam toilet sampai Stasiun Kota Lama Malang. Ini di luar perkiraan kami semua. Namun ada sedikit cerita  menarik buat teman-teman dari Bali yang belum pernah naik kereta. Maklum di sana tidak terdapat transportasi masal seperti ini.
Di Stasiun Kota Lama kami sudah di tunggu jemputan yang sudah kami pesan sebelumnya. Kami makan siang sambil menunggu Cepy, Tobes, Inung, Codak yang terjebak macet di Lawang.  Dari Stasiun Kota Lama-Sendang Biru perjalanan terasa cukup lama, minibus yang kami sewa kurang nyaman dan berisik. Aku yang bertanggung jawab atas semua kegiatan jadi tidak enak dengan pelayanan yang kami berikan.  Setelah 2 jam, kami tiba di pantai Sendang Biru di sambut oleh rombongan bermotor. Mereka tiba lebih dahulu untuk mempersiapkan basecamp. 
Sambil menunggu malam, kami persiapkan api unggun dan memasak ikan salem bakar. Semua saling bekerja sama baik itu peserta maupun panitia. Susana seperti ini yang akan membuat kita semua jadi semakin akrab. Akhirnya saat yang ditunggu pun tiba, Dinner!!!! semua pada lahap mungkin saking laparnya setelah menempuh perjalanan panjang.

Di malam api unggun satu persatu sudah tumabng di dalam tenda. Yang bertahan masih Aku, Cepy, Tobes, Inung, Dirjo. Kami pun bersenda gurau menghabiskaan malam dan tenaga malam ini. Ketika kami semua terlelap di tenda masing-masing, panasnya pantai di gantikan rintik-rintik hujan yang cukup deras. Panitia yang sudah terbiasa dengan kondisi ini ya cuma berkomentar ayo tidur saja biar besok semangat lagi.. Namun di tenda grup dari Surabaya udah pada ribut air merembes masuk ke tenda. Mereka yang tidak biasa dengan kondisi ini pada panik dan membangunkan kami semua. Otomatis kami harus mengungsikan mereka di Mushola. Jam 1 pagi kami mebuat yang hangat-hangat untuk mereka agar tidak kedinginan. Sekedar mie goreng dan susu hangat cukup untuk mengembalikan ketenangan mereka. 

Mentari pagi menyambut kami di balik mendung yang sedikit kabur. Setelah sarapan dan packing kami menuju POS BKSDA untuk mendapatkan informasi tentang CAPS secara detail. Semua peralatan kami tinggal untuk mengikuti prosedur yang ada. Kami hanya membawa air minum yang cukup banyak, kompor, makanan, jas hujan, serta kamera. Perahu yang akan mengantarpun sudah menunggu di bibir pantai. kami bergegas naik bisa menghabisakan banyak waktu di sana nanti. Setelah 10 menit perjalanan kami mendarat di Teluk Semut. Sial!!! track  hari ini sangat berat efek dari hujan semalam.  Baru beberapa langkah saja sudah sering jatuh. Bahkan ada yang sandalnya putus untuk menempuh medan ini. Saat survei, kami hanya butuh waktu 1,5 jam saja. namun sekarang 3,5 jam lebih. Anehnya cewek-cewek ini semangat sekali, terlihat dari cara mereka berjalan dan sanagt jarang istirahat. 

Segara Anakan lebih ramai dari sebelumnya, seperti pantai-pantai biasa saja jadinya.  Namun mau gimana lagi, sudah jauh-jauh kesini harus dinikmati saja. Ketika semua lagi asyik bermain, kami mempersiapkan makan siang dan sebuah kejutan dari Inung. Dia membuat rujak buah. sangat cocok di tempat tropis seperti ini menikmati yang segar-segar. hemmm…. Beberapa satwa liar terbidik oleh mata para calon dokter hewan ini. Ada beberapa kawana monyet abu-abu yang mengamati kami dari atas tebing. Kemudian Mereka juga berhasil menemukan seekor anak ular yang katanya cukup berbisa. Walaupun kecil dan masih bayi tapi bisanya cukup kuat.
Karena hari sudah semakin sore, kami khawatir untuk kembali pulang. Melihat kondisi peserta yang masih kelelahan dan juga kalau menginap semalam, kami tidak membawa perlengkapan apapun termasuk logistik, Akhirnya kami survival ke tetangga sebelah lumayan juga dapat logistik untuk 1 hari.
Perjalanan kami lanjutkan ke pantai pasir panjang. Untuk menuju kesana, kami melewati beberapa bukit dan 2 pantai kembar. Di pantai pasir panjang, kami mendapat tumpangan tenda dan shelter dari orang-orang yang juga camping di situ. Untunglah ada banyak bantuan dalam trip kali ini.

Malam ini kami menyantap siput laut dan timun laut hasil tangkapan di pantai ketika surut tadi sore ditambah mie instan. Karena tidak tahu cara mengolahnya, maka rasanya agak hancur. Untuk siput laut hanya di rbus dan di santap dengan saus sambal. rasanya mantab sekalai…. Api unggun di buat bersama-sama dengan pemilik camp untuk menghilangkan rasa dingin dan gigitan nyamuk. Kami bergantian menjaga agar nyala apinya tetap stabil. 


Saat itu langit cerah sekali, semua memamndang ke atas sambil rebahan di pasir pantai. Mengamati bintang-bintang yang terang sambil menunggu ada yang jatuh. Semakin malam semakin dingin angin yang berhembus belum lagi pakain yang kami kenakan masih basah setelah bermain air di pantai.
Kami coba untuk tidur namun terkadang harus bangun karena menggigil. 


Pagi-pagi setelah sarapan, kami packing dan beramitan pulang duluan, sebab kalau pulang bersamaan nanti akan merepotkan mereka saja. Dalam perjalanan pulang, kami mendapatkan masalah yang cukup gawat. Air yang kami bawa rasanya tercampur sabun. Karena ada oknum-oknum yang sengaja mandi di sekitar sumber air. Padahal air itu untuk diminum bukan untuk mandi. Walaupun sudah di campur oleh nutrisari rasa sabunnya masih terasa. Yang mau minum ya minum tapi bagi yang tidak mau minum, mereka menunggu mukjizat. Selama perjalanan pulang, kami sweeping sampah plastik dan sterofoam.Lumayan banyak hasilnya, sampai trash bag yang kami bawa jebol juga.


Tiba di Teluk Semut, semua orang mengantri menunggu jemputan perahu. Yang penting hafal nomor perahu dan menyampaikan kepada nahkoda perahu yang lewat. Air laut surut drastis. Kami harus berjalan 100 meter dari garis normal. Akhirnya kami sampai di Pulau Jawa lagi dengan selamat.

Jam 6 sore rombongan dari Himpro Satli Roschildi  berangkat dengan busnya. Kecuali Yani yang ingin ke Surabaya dulu ketempat temannya. Dia ikut kami naik bus ke Surabaya. Di sana dia diantar oleh Dirjo menuju rumah temannya. Kami tiba di basecamp jam 10 malam dan langsung kembali kerumah masing-masing jam. 

Cagar Alam Pulau Sempu (Part II-Trip)

Satu komentar pada “Cagar Alam Pulau Sempu (Part II-Trip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *