Mot, Tobes, Aku, dan Cepy di Segara Anakan


Iseng-iseng saya menawarkan trip ke Pulau Sempu melalui media jejaring facebook. Berawal dari iseng ternyata peminatnya cukup banyak. Ada sekitar 40 orang yang mungkin hadir dalam acara tersebut. Secara fisik saya tidak mampu untuk mengatur sendirian. Akhirnya saya minta bantuan kepada teman-teman. Keadaan seperti ini mengembalikan keakraban dan tali silaturahmi lagi. Terbentuklah sebuah kepanitian dengan Ketua Cepi, Sekertaris Inung, Bendahara Dirjo, Dokumentasi Saya, Sie Acara Tobes, dan Sie Perlengkapan Codak.

Survei kami lakukan 2 minggu sebelum hari H. Dengan naik motor saya dan Tobes berangkat duluan karena Cepi belum ada gandengannya. Sampai di Stasiun Kota Lama Malang kami mencari angkutan yang bisa mengantarkan kami ke Pantai Sendang Biru. Namun baru dapat Angkutan yang cocok di Terminal Gadang. Kami bertemu dengan seorang makelar atau premannya di Terminal dan menawarkan jasa untuk mencarikan. Akhirny kami deal dengan harga tersebut.

Menuju Surga Kecil Tersembunyi

Kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Sendang Biru dengan waktu tempuh 1 jam lebih. Kami mencari persewaan perahu yang mau mengantar dengan harga miring. Tapi tidak juga dapat. Akhirnya kami menuju ke Pos Perijinan Cagar Alam Pulau Sempu. Di situ kami baru tahu kalau ada ijin baru yang menyatakan bahwa untuk memasuki wilayah P. Sempu haru memiliki SIMAKSI (Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi) dan mengurusnya pun harus di Surabaya. Wah!! Masak harus balik lagi?? Kemudian kami juga dilarang mendirikan tenda tanpa ijin di sana sebab akan mengganggu ekosistem yang ada di sana. Sekarang populasi fauna langka di sana semakin berkurang akibat semakin banyaknya manusia yang masuk ke sana. Akhirnya kami terpaksa bermalam di Pantai Sendang Biru sambil menunggu Cepi dan Mot datang. Sambil mengisi waktu luang, kami memancing di dermaga malam-malam. Sebelumnya kami membeli udang di pasar namun udangnya sudah basi makannya kami tidak mendapatkan satu tangkapan pun. Setelah Cepi dan Mot datang, kami bergegas pindah ke pantai di dekat pintu masuk. Tenda sudah didirikan tinggal memasak mie instan untuk menu malam ini. Nyamuk di sini suntikannya bena-benar jos, celana jeans pun mampu di tembusnya. Untung sudah bawa lotion anti nyamuk supaya bisa tidur nyenyak.

Fajar menyingsing perlahan-lahan dan masih menyisakan jejak gelapnya. Benar-benar indah lukisan gradasiNya di pagi itu. Aku yang sudah terbangun tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Segera mengambil kamera dan mencoba untuk merekam suasana itu. Namun karena keterbatasan kamera pocket maka hasilnya tidak bagus. Aku berkenalan dengan seseorang yang juga mengabadikan suasana pagi itu dengan DSLR-nya. Bang Yusuf berasal dari Jakarta. Dia kesini baru pertama kali. Hanya berpedoman pada apa yang sudah ia dapatkan dari kawan-kawannya ia kesini sendirian. Sialnya dia tidak diijinkan masuk sama seperti kami. Kami pun sepakat akan masuk bersama-sama nanti jam 8 setelah sarapan. Sebenarnya banyak juga yang nekat masuk dan mendirikan camp di sana. Tapi kami harus ikut menjaga ekosistem minimal dengan mematuhi peraturan yang sudah dibuat.
Jam 8 lebih kami berangkat dengan perahu yang dikoordinir oleh Bapak Adi. Perahu hanya muat maximal 15 penumpang dengan 1 nahkoda dan 1 ABK. Tarif yang ditarik cukup mahal, Rp 100.000,00 PP dengan lama perjalanan hanya 10 menit saja. Tujuan kami ke Teluk Semut, salah satu pintu masuk yang menuju ke Segara Anakan.

Untung tadi malam tidak hujan, jadi jalan yang kami lalui cukup mudah. Dengan medan tanah lumpur kering dan batu-batu karang mencuat dari permukaan sering membuat kaki tersandung. Belum lagi harus melewati jembatan kayu kecil yang bawahnya adalah aliran air berbatu karang. Agak takut juga kalau terpeleset bakalan jatuh dan terbentur batu-batu karang itu. Dari Teluk Semut-Segara Anakan memakan waktu 2 jam tracking. Istirahat di bawah pohon pinggiran Segara Anakan sambil makan snack dan tentunya mengambil beberapa foto.

Segara Anakan

Segara anakan merupakan suatu daerah aliran air yang terbendung oleh tebing-tebing karang dan terhubung ke laut Samudra Hindia oleh tebing karang yang berlubang, disebut Karang Bolong. Sehingga air laut mudah masuk ke dalam daerah ini. Bahkan daerah ini mirip seperti laut kecil yang indah. Oleh sebab itu disebut Segara Anakan.

Orang-orang yang kemarin nekat masuk Pulau Sempu ternyata memang merusak ekosistem. Mereka mandi dan keramas di dalam air laut. Kalau hal itu di tiru pengunjung lain maka ekosistem terumbu karang dan ikan-ikan di situ akan cepat rusak. Jelas-jelas di pos perijinan sudah dilarang tapi masih saja dilakukan. Entah dari organisasi mana, menurut penjaga BKSDA mereka dari Semarang. Ada juga yang kesini Cuma untuk foto preweding. Padahal medan yang dilalui cukup susah bagi seorang pemula. Benar-benar hanya demi sebuah kenikmatan sesaat tempat ini menjadi korban.  Untung masih ada yang peduli dengan nasib pulau ini, seperti foto yang saya ambil diam-diam ini. Bapak ini setiap hari keluar masuk pulau hanya untuk mengambil sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para pengunjung. Tujuan utamanya untuk mencari rejeki dari memulung barang bekas logam dan plastik. Walaupun pekerjaan yang kotor namun secara tidak langsung beliau ikut serta dalam mengurangi timbunan sampah.(bersambung)

Peraturan Memasuki Cagar Alam Pulau Sempu
Pejuang Hijau Mengais Rejeki 

Cagar Alam Pulau Sempu (Part I-Survey)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *