Dari meeting point kami melanjutkan perjalanan menuju ke Banyuwangi via Licin. Jalan yang kami lalui menurun tajam dengan medan aspal halus kemudian lama-lama menjadi makadam. Untung semalam tidak mengambil jalan ini. Untuk turun saja tiap motor hanya bisa di kendarai oleh satu orang kalau tidak mau terjatuh. Seperti kasus Suneng dan Cepy dengan motor Revo barunya, mereka berdua terjatuh karena motor yang di rem tidak bisa berhenti di medan berbatu miring. Begitu juga dengan para pengunjung yang ingin naik. Medan ini hanya cocok untuk kendaraan 4 wheel drive saja. Kalau sayang dengan nyawa mendingan menyewa mobil milik penduduk setempat. 20 menit kami lalui dengan tantangan yang seru selanjutnya jalan kembali bagus lagi dengan aspal halus di kiri dan kanan jalan ada kebun kopi dan coklat. Kayaknya enak banget kalau di mix.
Keluar dari Licin kami menuju ke Genting. Di sini Aku baru tersadar kalau Aku punya senior di Banyuwangi kota. Aku coba kontak dia siapa tau bisa numpang mandi dan istirahat sejenak. Beruntung sekali dia mempersilahkan kami ke rumahnya di Kampung Arab. Badanku rasanya bau sekali jadi harus mandi khusyuk nanti. Di rumah Mas Haekal, kami bersalaman dengan kelurganya. Sangat tidak etis bertamu dengan bau badan yang bercampur polusi, belerang, dan keringat, namun ini keadaan yang terdesak (pembenaran diri lagi). Sambil ngobrol, kami bergantian mandi untuk mempercepat supaya tidak terlalu lama sampai di rumah Abi. Menurut pamannya Mas Haekal, pelabuhan akan macet di atas jam 3. Karena banyak truk ekspedisi dan bus pariwisata yang menuju ke Bali pada waktu tersebut. Setelah mandi, kami bergegas pamit karena Mas Haekal dan teman-temannya juga mau pergi.
Makan siang kali ini di warung pinggir jalan dengan menu khas Banyuwangi, Rujak Soto. Tidak hanya rujak soto yang di jual di sini, ada nasi campur, nasi ikan, nasi rawon, dll. Tersarah apa yang mau dimakan, yang penting harus kenyang dan bergizi. Pilihanku tertuju pada nasi campur.  Harga yang ditawarkan masih relative umum lah, jadi kami tidak perlu merogoh terlalu dalam. Hehehe…
Jam 1.30 kami berangkat dengan kapal Ferry  Ketapang-Gilimanuk dari pintu kapal barang dengan biaya Rp14.000,00/motor. Kami mendapatkan tempat duduk di luar tanpa kanopi. Panas terik kami lawan dengan membuat canda tawa, foto-foto, dan menikmati alam lepas. Terkadang Aku melihat ubur-ubur di permukaan air mendekat Ferry. Penyebrangan menghabiskan waktu 30 menit dan kami sudah tiba di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Mengantri lama keluar dari Ferry ternyata ada pemeriksaan KTP dan SIM serta kelengkapan aksesoris motor. Tidak seperti naik bus pariwisata yang tinggal duduk manis tanpa melewati pemeriksaan. Untung kami lolos dengan selamat karena saat itu yang mengemudikan punya SIM.
Keluar dari pelabuhan kami buta arah karena ini pertama kalinya kami ke Bali dengan self arrangement. Dengan bantuan peta mudik yang kami ambil di Posko kemarin, kami berhasil menemukan rute jalannya. Tujuannya rumah Abi di Seririt. Kami melewati Taman Nasional Bali Barat dengan view hutan di kiri dan kanan yang meranggas dan tidak jarang kami bertemu dengan kawanan monyet abu-abu di sepanjang jalan tersebut. Kemudian berganti view setelah melewati beberapa batas desa menjadi pantai-pantai, bukit, sawah, pedesaan. Pokoknya view yang tidak pernah kami jumpai ketika naik bus pariwisata. Aku sendiri yang dari kecil sudah sering ke Bali tapi baru sekarang menggunakan jalur ini.


Istirahat sejenak dipinggir jalan dengan pemandanagn pantai dan pure di seberang jalan. Mencoba makanan yang dijajakan di sini. Bakso ayam dengan embel-embel halal, lucu juga namanya. Tidak seperti di Jawa yang asal jual Bakso tanpa ada tulisan halal di spanduk atau grobaknya kecuali pedagang franchaise loh. Kemudian lanjut foto-foto di sekitar pantai dan pura.

Jam 4.30 WITA baru tiba di depan terminal seririt. Kami menunggu dijemput Abi karena sudah janjian di sini. Ternyata rumahnya masuk gang di tempat kami berhenti, jadi tidak susah mencari kami. Kami di persilahkan masuk, bersih diri dan sholat Ashar. Aku meminjam kaos milik Abi karena tidak membawa kaos ganti sama sekali. Setelah sholat maghrib, kami di ajak makan malam kemudian di ajak ke Lovina menikmati malam. Karena rumahnya dengan Lovina cukup dekat.

Lovina merupakan tempat wisata elit yang isinya cuma tempat makan dan handycraft. Berbeda dengan Kuta, Sanur, dan Nusa Dua yang cenderung hiruk pikuk dengan dunia malamnya. Di sini semuanya serba tenang dan sangat menikmati makanan. Para wisman yang datang umumnya membawa atau menyewa yatch. Kata Abi wisman yang di Kuta itu levelnya cuma bos outlet Mc Donald saja sedangkan di sini paling kecil levelnya bos dari para bos outlet Mc Donald. Beruntung juga kami berada di tempat senyaman ini namun kami tidak berada di dalam restoran, hanya menikmati suasana malam di pinggir pantai saja.


Sudah agak malam jadinya kami pulang ke rumah Abi, tidak enak juga pulang terlalu malam di rumah orang. Di sini kami disuguhkan teh hangat dan kopi panas serta beberapa gorengan. Pas banget dengan badan yang habis tersapu angin pantai. Setelah itu kami ngobrol sampai jam 12 WITA dini hari dan lanjut tidur malam. Tidak lupa recharges baterai kamera dan handphone biar besok puas foto-fotonya.
Pagi yang menakjubkan!! Terbangun oleh suara adzan subuh dari masjid depan rumah. Sholat subuh, kemudian kami membersihakan ruang tamu yang sudah di pakai tidur dan bersiap kembali lagi ke Lovina melihat lumba-lumba. Di Lovina pagi hari sangat berbeda dengan malam hari. Walaupun pasir pantai hitam, namun tempatnya bersih jarang ada sampah berserakan. Banyak pemilik perahu menawarkan jasanya untuk melihat lumba-lumba ke tengah laut. Kami tidak jadi melihat karena harga yang di patok sangat mahal bagi kami, yaitu Rp75.000,00 per orang. Mending kami pakai untuk makan pak!! Tapi kami bisa foto dengan icon Lovina juga loh gratis lagi.

Di rumah Abi kami sarapan ayam suir, cah kangkung, dan buah. Wih…. Sehat banget nih!!! Puas dengan kenyamanan yang diberikan oleh keluarga Abi, kami harus berpisah untuk melanjutkan perjalanan kami. Peteng yang saat itu sedang bad mood harus pulang ke Surabaya. Aku sendiri tidak enak meninggalkan dia pulang sendiri karena dia yang mengajakku kesini. Sudah terlanjur basah pergi jauh sekalian pergi saja. Nanti urusan dimarahi belakangan yang penting bisa pulang selamat dan bersama-sama. Akhirnya Suneng yang bersedia pulang menemani Peteng karena dia juga ada janji dengan seorang cewek. Kami pun berpisah arah dengan mereka di depan gang rumah Abi.Mereka berdua ke kanan ke arah Jawa sedangkan kami ke kiri ke arah Kintamani.

Kembali melewati jalan di Lovina kami menuju ke Kintamani. Sebetulnya kami punya dua opsi ke Kintamani atau Bedugul. Karena yang murah di Kintamani dan yang penting bisa foto-foto saja. Jalan menuju ke Kintamani berliku-liku dan menanjak. Kami harus pelan-pelan karena tikungan yang tajam dan jalan yang sempit. Pemandangan desa yang biasa namun mendekati Kinatamani kami disuguhkan oleh hutan yang asri kemudian kiri dan kanan sudah lereng gunung. Posisi kami berada di atas punggungan sehingga angin sangat kencang menghantam kami.

Selamat datang di Kintamani!!! Pemandangan yang sangat indah. Gunung Batur dengan sisa hutan yang tebakar di tambah birunya langit dan air danau semakin memanjakan mata yang sudah lelah. Seandainya ada rumah yang bisa kami tumpangi untuk tiduran sambil memandang ke sana. Hehehe terlalu berhayal di siang bolong. Perut kami sudah ingin diisi lagi padahal beru 3 jam lalu sarapan. Tapi aku tidak makan karena masih kenyang. Toh yang dimakan juga cuma bakso ayam. Sambil menunggu mereka makan, aku bermain dengan kamera memburu momen-momen anak sekolahan.
Mengejar waktu untuk sholat jumat di daerah sini sangat susah. Sampai di Buleleng pun kami tidak menjumpai mushola sama sekali. Piuh!!! Benar-benar musafir. Kami lanjutkan perjalanan menuju ke Pasar Sukowati. Menurut peta Cuma satu jalan tapi kenyataanya ada banyak percabangan sehingga kami sering berhenti untuk bertanya kepada penduduk setempat.

Di Pasar baru Sukowati kami belanja untuk oleh-oleh. Walaupun ada duit tapi kalau bawanya ribet, mending kami tidak membeli. Aku Cuma membeli kaos untuk adek-adek dan ibu q  serta titipan celana pendek titipan Suneng. Waktu yang lama kami habiskan untuk menawar malah ada satu stan yang sengaja memancing kami untuk membeli. Iseng-iseng juga kami mebalas  dan mengajak berkenalan.

Sebenarnya kami akan pulang namun di parkiran kami bertemu dengan sopir yang berasal dari Surabaya. Beliau berkata kalau sudah di Bali tapi tidak berkunjung ke Dreamland berarti belum ke Bali. Darah petualang kami kembali mengalir dengan secuil info yang sangat menusuk jantung. Setelah isi bensin, kami menuju ke Dreamland di daerah Uluwatu. Untuk kesana kami bertanya kepada pak polisi di perempatan jalan Seminyak. Agak heran dengan jalan yang kami lalui karena jalan yang kecil dan jarang lalu lalang kendaraan pariwisata. Di depan mata sudah terpampang GWK tapi kami terus mencari sebuah tulisan Dreamland. Sampai pada penghujung percabangan ada penarikan karcis masuk. Kami bertanya lokasi Dreamland kepada pecalang namun beliau menjelaskan kalau kami sudah melewatinya 5 kilometer yang lalu. Wah… kalau kembali ga bakal dapat sunset dunk…

“Kalau di sini ada apa, Beli? Terus yang di sana ada apa?” tanyaku
“Di sini ada Pure Agung ada pertunjukan Barong kalau di sana Pantai Padang-padang” jawab seorang pecalang

Kami memutuskan untuk ke Pantai Padang-padang saja karena ingin menikmati sunsetnya. Cukup dengan Rp3.000,00 untuk parker motor, kami bisa masuk dengan leluasa. Banyak sekali bule-bule yang datang dengan berpakaian minim dengan papan surfingnya. Wah… bisa gawat kalau begini!!!! Dengan tangga menurun kami meleawati sebuah toko-toko dan mini bar namun bau tidak sedap tercium sebelum memasuki areal tersebut. Ternyata sebuah kamar mandi yang tanpa air dengan bau pesing disekitarnya.  Piuh… sayang sekali dengan tempat sebagus ini namun orang-orangnya kurang sadar terhadap lingkungan.

Pantai dengan tebing-tebing karang dan pasir yang putih jarang sekali kami lihat. Mencoba berenang sekedar mencelupkan badan saja sebagai syarat sudah sampai di sini. Yan’e yang terhanyut dalam suasana mulai mengalunkan lagu-lagunya sedangkan Tobes dengan kameranya memburu berbagai objek. Matahari pelan-pelan turun kedalam horizon kami bergegas mengenakan pakaian dan berburu spot terbaik untuk sunset. Berkali-kali Tobes dan Aku bergantian mengambil foto karena kamera Yan’e sudah tamat baterainya. Jepret jepret jepret… Panorama yang sangat indah. Tak salah bila kami kemari walaupun salah tujuan. Setelah matahari terbenam dan menyisakan sedikit cahaya, Yan’e meminta tolong kepada seorang cewek bule, Brownie namanya, untuk memfotokan kami sebelum baterai habis.


 Sebelum pulang kami makan di warung daerah Jimbaran.  Niatnya cari yang murah dengan menu nasi dan tempe penyet, kok selisih harganya beda dikit dengan nasi ayam. Hemm harus makan dengan ikhlas ni… Kemudian kami melanjutkan perjalanan dan mampir dulu di SPBU terdekatuntuk mengisi bensin dang anti pakaian kering. Di situ aku bertemu dengang rombongan biker dari Surabaya tepatnya daerah Banyu Urip. Mereka mengajak konvoi bersama tapi kami tolak dengan halus takut merepotkan. Karena kendaraan kami hanya bebek tua.

Kami menuju Pelabuhan Gilimanuk hanya berdasarkan papan penunjuk arah karena peta mudik di sini kurang akurat. Di tengah perjalanan Yan’e mabuk darat karena kecapekan dan masuk angin. Setelah mengisi bensin lagi kami mendapatkan masalah. Terutama Aku yang jadi pelaku sekaligus korban. Pandanganku menjadi aneh setelah istirahat di SPBU tadi. Padahal baru 1 kilometer berlalu saya melihat pelabuhan sudah di depan mata. Di balik pohon-pohon sudah terlihat laut dan gunung-gunung di Jawa. Rasa ini juga di alami oleh Tobes yang saat itu menyetir juga di belakang motorku. Namun anehnya Aku mengalami ini  lagi setelah selang waktu 15 menit. Dari sinilah pandanganku semkin kacau. Melihat orang sedang memperbaiki Pickup di pinggir jalan sehingg harus menghindari itu. Padahal Tobes dan Cepy melihat aku akan menabrak mobil dari lawan arah. Untung aku berhasil menghindar setelah sedikit sadar. Kemudian Melihat ada tugu di perempatan jalan sehingga harus ambil jalur kiri. Ternyata mereka melihat jalan hanya lurus-lurus saja, malah Aku mau menabrak trotoar jembatan. Kembali lagi terselamatkan. Saat akan mengalami yang ketiga Tobes menepikan motorku dan mengajak istiraht di RM Madinah. Di situ aku di intrograsi banyak hal tentang kejadian tadi. Mengetahui kondisi kami yang capek, pemilik rumah makan mempersilahkan istirahat di dalam mushola. Namun kami memilih tidur di gazebo luar saja.

Jam 5 pagi WITA kami melanjutkan menuju ke Gilimanuk. Gterjadi perdebatan antara Tobes dan Cepy tentang siapa yang menyetir. Karena Tobes tidak punya Sim takutnya ada pemeriksaan seperti ketika masuk ke Bali. Ternyat benar, Tobes yang saat itu menyetir dengan sangat ketakutan   mengelurkan SIM yang sudah tidak ada tulisan alias luntur milik kakanya.

“Boleh lihat SIM dan STNK pak? Tanya petugas.
“Ini pak” jawab Tobesl mengeluarkan SIM dan STNK.
“Namanya?” Petugas bertanya kembali karena tidak bisa membaca tulisan yang tercetak di SIM
“Ega” jawab Tobes dengan gemetaran.
“Boleh lihat KTP?” Tanya petugas lagi.
“Ini pak.” Jawab Tobes.

Kali ini dia sangat takut karena nama yang tertera sangat jelas tidak cocok. Namunentah karena kasihan atau bagaimana petugas tersebut meloloskan dia. Sambil ketawa bodoh dia girang dan memacu motornya cepat-cepat.

Sampai di Banyuwangi, kami sarapan dengan nasi bungkus khas pelabuhan. Dengan bungkus daun pisang dan isinya hanya nasi, sayur, dan lauk secuil.Herannya harganya lebih mahal dari yang standar. Mungkin karena masih pagi jadi masih hangat dan banyak yang lapar.

Perjalanan kami tancapkan sampai ke Kraksaan lagi untuk mengembalikan kompor gas portable milik Mas Arul. Kami di jamu lagi layaknya tamu padahal Aku sering merepotkan saudaraku yang ini. Menunya berbeda dari biasanya. Mi kuah dan daun singkong.uh… mantab deh!!!! Siangnya ada makan lagi nasi pecel. Dengan camilan mangga muda di rujak. Maknyus!!!!!!!!

Jam 2 siang kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan lagi ke Surabaya. Sebagai penutup, kami menuju posko mie sedap sekedar istirahat dan makan. Arus balik cukup padat sehingga kami agak lambat. Biasanya dengan kecepatan rata-rata 90 km/jam sekarang Cuma 70km/jam. Jadinya kami sampai dirumah Yan’e jam 5.30. Di sini kami disuguhkan lagi makan malam.  Dan di suruh mandi agar badannya segar kembali. Setelah makan Aku langsung kerumah Suneng mengantarkan titipannya dan dia menyuruhku masuk sebentar. DI sana Aku sudah disiapkan makanan. Mau tidak mau kudu dimakan sebagi syarat.

Sampai di rumah sudah jam 9.30 malam. Badan rasanya capek sekali. Seperti mimpi saja baru berpetualang senekat ini. Dengan pamit palsu berujung setngah maut segala. Alhamdulilah masih diberi kesempatan lagi. Semoga petualangan selanjutnya lebih seru lagi.

Biaya yang dibutuhkan
 
A. Bensin permotor ( ditanggung 2 orang):
  1. Surabaya-Situbondo    Rp20.000,00
  2. Situbondo-Bondowoso-Banyuwangi Rp 20.000,00
  3. Banyuwangi-Seririt Rp20.000,00
  4. Seririt-Kintamani-Sukowati Rp20.000,00
  5. Sukowati-Jimbaran-Uluwatu-Jimbaran-Negara Rp20.000,00
  6. Negara-Banyuwangi Rp20.000,00
  7. Banyuwangi-Kraksaan Rp15.000,00
  8. Kraksaan-Surabaya Rp15.000,00
B. Makan :
  •         Free
Posko Mie Sedap, Rumah Mas Fajar, dan Rumah Abi
  •         Berbayar

           1.       (Bu Um) Nasi goring+teh hangat Rp8.000,00×3 = Rp24.000,00
           2.       (Rujak Soto) Rata-rata Rp7.000,00
           3.       Bakso Ayam Rp5.000,00
           4.       Nasi tempe penyet+teh Rp9.000,00 / Nasi ayam+teh Rp 12.000,00
           5.       (RM Madina) Kopi Rp5.000,00
           6.      Nasi Bungkus pelabuhan Rp.5.000,00


C. Oleh-oleh :
  1.     Kaos Rp10.000,00
  2.     Celana pendek Rp10.000,00
  3.     Tas Rp20.000,00
D. Retribusi:
  1.    Kawah ijen sukarela
  2.     Parkir di Lovina Rp1.000,00/motor
  3.     Parkir di Sukowati Rp1.000,00/motor
  4.     Parkir di Pantai Padang-padang Rp3.000,00/motor
  5.     Tiket Ferry Rp14.000,00×2 = Rp 28.000,00/motor

E. Saran :

  1. Selalu bawa peta di mana pun Anda pergi.
  2. Ketahuilah situasi tempat yang akan Anda tuju.
  3. Bawa pakaian secukupnya.
  4. Buat anggaran dana agar tidak boros
  5. Belilah oleh-oleh seperlunya
  6. Perbanyak relasi dan komunikasi dengan orang luar
  7. Cek kondisi tubuh Anda serta kendaraan yang digunakan.
  8. Selalu Ingat bahwa semua ini ciptaan-Nya dan kita wajib menjaga.


Penculikan ke Kawah Ijen – Bali (Part II)

2 komentar pada “Penculikan ke Kawah Ijen – Bali (Part II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *