Tahun 2009 pada saat bulan puasa banyak orang yang merencanakan libur lebaran. Ada yang ingin ke pantai lah, ke bukit lah, dan yang paling sederhana berkumpul dengan sanak famili saja. Aku dan teman-teman pun juga punya rencana sendiri. Namun kali ini aku dan Cepy yang mengikuti alur planning adik-adik. Mereka berencana mendaki ke puncak Gunung Ijen sasaran utamanya adalah kawah ijen.
Langsung saja aku dan Cepy searching dengan Mbah Google di warnet. Kebanyakan yang kami temukan adalah foto di puncak kawah yang gersang dan sedikit tips menuju kesana.Selain itu kami sering melewati jalur pantura tersebut jadi agak bosan juga. Otomatis kami mencari alternatif ke tempat lain, yaitu di Telaga Ngebel, Gunung Wilis, dan beberapa air terjun di Kediri. Kami langsung meberikan opsi ke mereka agar mereka memilihnya. Tapi mereka masih bersikeras kesana. Ya sudah lah, kami lihagt perkembangannya dulu.
Semakin mendekati lebaran ada ide alternatif lagi yang kami dapatkan yaitu berkunjung ke Pulau Sempu. Karena liburan kali ini cukup untuk yang tidak punya banyak cuti, maka aku dan cepi sepakat ke Sempu. Kami berdua bagi tugas memberikan informasi dan biaya yang dibutuhkan ke sana. Ada empat orang yang ingin ikut yaitu Dirja, Inung, Suneng dan temannya Dirja. Lumayan lah daripada tidak ada yang menemani jalan-jalan.
 H-3 lebaran Aku harus mudik sekeluarga ke Barat, salah satu desa di perbatasan Madiun-Magetan-Ngawi. Seperti lebaran sebelumnya, aku naik motor kesayangangku si Meta bersama Agil, adikku. Sedangkan Ibu dan adikku yang bungsu naik bus. Saking asiknya dengan keluarga, aku melupakan rencana liburanku hingga tersadar ketika Cepy sms menanyakan kepastian kapan berangkat ke Pulau Sempu. Langsung saja Aku membuat planning aktivitas kedepan dengan sisa liburan masih 10 hari.
H-1  : mengisi waktu siang dengan nonton TV sambil tiduran.
H     : Sholat Ied, sungkem kepada Ibu, Kakek, dan sodara-sodara di rumah dilanjutkan unjung-unjung ke     tetangga terdekat.
H+1 : Jalan-jalan
H+2 : Balik ke Surabaya dengan Agil
Dengan kondisi tubuh yang masih drop karena kecapkean jadi tukang ojek kesana kemari akhirnya Aku paksakan pulang. Pamitnya ke orang rumah cuma ada acara kampus jadi kudu pulang, padahal pingin jalan-jalan dengan teman-teman (semoga masih di maafkan). Jam 5.30 sore setelah sholat maghrib aku meluncur ke Surabaya tercinta.  Tak terasa waktu sudah berubah jadi malam, tiba-tiba ada yang menggangu konsentrasi mengemudiku. Ternyata HP-ku ada sms masuk  dan panggilan masuk sejak jam 7 malam tadi sedangkan sekarang sudah jam 9.30 waktu Mojokerto bagian pinggiran. Tak berapa lama ada panggilan masuk lagi dan langsung Aku angkat. Ternyata Peteng yang telpon mau meminjam tenda buat besok ke Kawah Ijen. Aku suruh datang jam 10 di rumah karena sekarang masih di jalan. Anak-anak ini nekat juga ya?? Nurun sama mas-masnya mungkin. hehehe
Jam 10 lebih baru sampai di rumah Ketintang. Melihat inbox handphone ternyata ada sms dari Cepy menanyakan kepastian besok bagaimana. Karena masih capek, Aku menyuruhnya datang ke rumah biar lebih enak kalau dibahas face to face. 30 Menit kemudian dia baru tiba di rumah. Pembahasan ini tak mengkrucutkan hasil. Yang ada malah berbagai opsi yang tidak ada kepastian. Plan A Berangkat ke Pulau Sempu, Plan B ikutan ke kawah Ijen, Plan C…….. Dan entah sampai mana obrolan kami berdua hingga kami tertidur di sofa. Jam 12 dini hari Cepy membangunkanku untuk pamit pulang.
Terbangun jam 7.30 pagi wajah dan suara Peteng mengganggu tidur nyenyakku. Hoaaammm!!!! “Jadi berangkat?” tanyaku, “Ia Mas J, tapi kurang 1 orang lagi soalnya Intan dan Gebi tidak diijinkan ibunya berangkat. Sampeyan ikut po’o??!” jawabnya sambil merayu. Sambil berpikir dan mengatur rencana yang sudah disusun semalam, akhirnya Aku ikut dengan rencana mereka. Sebelumnya Aku sms Cepy kalo Aku ikut anak-anak ke Kawah Ijen kalau mau menyusul Aku suruh ajak Suneng yang lagi terjebak macet di jalur Mojoagung-Surabaya.
Posko Mie Sedap
Tak Sabar Menanti Makan
Karena cuma 2 hari 1 malam, Aku cuma membawa tas slempang Eiger berisi celana dalam, alat mandi, dan dompet. Sedangkan yang Aku pakai cuma celana pendek di rangkapi dengan celana cargo, kaos, jaket, kaos kaki, sandal gunung, serta helm. Jam 10 Aku dan Peteng berangkat dengan Vega oranyenya ke check point awal di SPBU Aloha Sidoarjo. Di sana sudah ditunggu oleh Tobes dan Yayan dengan Supra fit-nya Tobes. Setelah isi bensin sampai full tank, kami menuju ke check point kedua di rumah saudaraku di Kraksaan. Namun kami menghentikan perjalanan sejenak karena ingin mencoba hidangan yang disajikan di Posko Mie Sedap. Nyammy!!! mi goreng seporsi ditambah minum Ale-ale rasa jeruk memang pas saat panas-panas begini apalagi ini semua gratis. Sambil menunggu dihidangkan, Tobes kembali dengan membawa selembar peta mudik setelah memasan mie. Wih… ternyata banyak juga tempat-tempat yang bisa di kunjungi nanti.

Iseng-iseng Aku berkatata,”Kawah Ijen dengan Bali dekat banget ya!! Gak ada yang nyoba?” Semua langsung terpusat pada peta dengan menaksir jarak dari Kawah Ijen ke Bali. Kebanyakan sudah bilang ayo berarti sudah sepakat berangkat ke Bali. hehehe…. Akhirnya makanan kami datang, sambil ngobrol muluk-muluk di Bali nanti mau ngapain kami menyantap makan siang sekaligus sarapan. Sedap!!!! Setelah makan dan sholat dzuhur kami berangkat menuju rumah saudaraku.

Basecamp SMAKRAPALA

Kurang dari satu jam kami sudah sampai di rumah saudaraku. Ternyata di rumah cuma ada Mas Fajar saja, kakak sepupuku. Sebenarnya kami mapir hanya untuk meminjam kompor dan menunggu Cepy datang. Sebelumnya Cepy pernah Aku ajak kemari waktu ekspedisi Gunung Argopuro. Tak berapa lama, Cepy dan Suneng sudah datang. Bik Bin, tante dari Mas Fajar mempersilahkan kami semua untuk makan siang. Wih,,, makan doubel nih….

Semua sudah lengkap kami berpamitan dan berangkat menuju ke Kawah Ijen dengan petunjuk peta mudik. Tidak harus perjalanan yang mulus, kami harus sering berhenti untuk mengisi angin ban, melumasi rantai, bertanya-tanya kepada orang, dan yang paling penting mengisi bensin. Kami menggunakan jalur alternatif Situbondo-Bondowoso dengan melewati  bukit-bukit  di malam hari dan pemandangan gemerlap lampu kota di bawah membuat sensasi berkendara tersendiri. Hawa dingin mulai menusuk daging, hidung mulai berair, jari-jari tangan pun susah di gerakkan. Brrrr…. Semua ini tidak menghalangi kami untuk menuju kesana. Semangat!!!!

Pos I Paltuding

Kurang lebih perjalanan sudah memakan waktu 3 jam dengan melewati jalur desa, makadam sampai pos I, dan wajib membayar karcis masuk (entah berapa harganya, kali ini kami membayar sukarela sesuai yang dikatakan penjaga). Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, Aku tak pernah merasakan suasana damai seperti ini. Jalan aspal yang bergelombang dengan kiri kanan hutan rakyat, kebun, serta semak belukar ditambah romantisnya bulan purnama yang indah malam ini di ketinggian 2000mdpl membuat semangat hidupku semakin bergejolak.

Masak-masak sama Bu Um

Sekitar jam 9-10 malam kami  tiba di pos peristirahatan Kawah Ijen. Agenda pertama adalah mencari informasi dan lokasi camping ground karena sudah susah payah membawa tenda dan peralatan masak. Hembusan angin dan suhu yang mendekati 10°C membuat kami mendadak lapar. Langsung saja memesan makanan ke warung yang masih buka. Kami berkenalan dengan pemilik warung dan mencari berbagai informasi terkait dengan potensi yang ada di sini. Dengan ramah Bu Um, pemilik warung, mempersilahkan masuk ke dapur sambil menghangatkan badan di tungku perapiannya sambil memasak nasi goreng dan bercerita. Oh ya, di sini kami sewarung dengan seorang artis Ibu kota pemain sinetron anak Bidadari (nama minta disamarkan). 1 porsi nasi goreng telur panas+teh hangat cuma Rp8.000,00 sumpah kami semua menyesal membawa peralatan yang menyusahkan ini belum lagi Bu Um menawarkan untuk menginap di warungnya karena cuaca yang dingin. Dari pada mubadzir, kami mendirikan tenda saja bagi yang mau tidur di warung atau di tenda silahkan. Aku memilih tidur di warung karena kondisi fisikku yang terforsir di jalan selama 2 hari ini dan demi persiapan besoknya.

Alhamdulilah!!!
Jam 3 pagi suhu semakin dingin, jaket yang ku bawa tidak untuk menghangatkan sehingga Aku mengeluarkan isi tas carrier 80liter dan menggunakannya untuk menyelubungi kaki. Jam 4 pagi suhu agak menurun, orang-orang mulai ribut persiapan summit attack ke puncak agar tidak ketinggalan momen sunrise. Tapi teman-teman saya masih tidur mungkin mereka masih capek setelah menempuh 12 jam perjalanan panjang. Jam 6 pagi aku terpaksa membangunkan mereka agar bersiap-siap dan packing sebelum naik. Wisman-wisman dari berbagai dunia mulai memenuhi meeting point.

Beberapa tahun yang lalu kawah ini pernah menarik perhatian seorang pengasuh acara televisi Perancis bernama Nicolas Hulot. Dia berkunjung ke Ijen dan menayangkan reportasenya itu dalam acaranya yang terkenal  ‘Ushuwaia Adventure’. Sejak saat itu kawah Ijen menjadi terkenal di Perancis dan negara-negara berbahasa perancis lainnya dan semua biro Perjalanan besar di perancis sana memasukkan kawah ini dalam program wisata ke Indonesia yang mereka tawarkan pada pelanggan mereka. Jadi mayoritas wisman disini WN Perancis. Bangga menjadi Indonesia rek!!!!

Selamat Datang
Mencoba Tapi Tak Kuasa
Setelah sarapan sama bule-bule kami memulai pendakian bersama. Di gerbang awal bertuliskan  “Welcome-Selamat Datang”  sebuah penyambutan yang menarik walaupun kurang mendapat perawatan. Namun terlihat lebih berseni efek editan alam. Treking awal sangat menanjak, belum lagi udara dingin bercampur belerang pekat. kami pun istirahat sejenak di pos penimbangan belerang. Para penambang yang habis bertaruh nayawa berjam-jam menghitung jerih payahnya di sini. Banyak wisatawan yang mengabadikan momen mereka sekaligus membeli sovenir setempat.

Satu orang biasanya memikul beban 75kg sekali. Harga yang dibayar tidak sebanding. 1kg belerang dibayar Rp600,00. Cukup tinggi dari UMR di Bondowoso namun mereka tidak satu bulan penuh bekerja. Biasaya hanya 15 hari bekerja sisanya untuk meredakan luka-luka akibat beban yang berat.  Belum lagi efek H2SO4 yang sangat tidak diperhatikan oleh para penambang. Pernah teman saya dari UGM bercerita bahwa penelitian fisiologi terhadap rata-rata penambang belerang di kawah ijen mengalami sebuah evolusi paru-paru yang lebih besar dari manusia normal.

Lanjut lagi naik dengan medan bonus dan lebih sempit dari tadi. Aroma belerang semakin menusuk hidung seperti bau kentut. Tak lupa kami mengenakan masker yang sudah kami ambil dari warung Bu Um. Sepanjang perjalanan kami ditemani oleh pasangan kekek dan nenek dari Perancis. Mereka susah untuk di ajak bahasa Inggris jadi kami bantu dengan bahasa tubuh. Merci!!!! sambil tepuk tangan  untuk menyemangati. Kami tertegun melihat semangat mereka yang masih membara, walaupun mereka sudah berumur 70 tahun lebih. 
Puncak!!! Ternyata bukan, masih ada yang lebih tinggi lagi. Jam 8 lebih sudah memanas, angin kering dari laut dan kawah bercampur dengan kecepatan angin yang lumayan kencang. 300 meter kemudian lubang menganga besar sudah temapk di depan mata. Air kawah yang berwarna biru torquoise dengan balutan asap belerang kekuning-kuningan sangat kontras dengan tebing cadas yang menampungnya. Sangat cantik dan alami, pantas saja bule-bule terhipnotis dan penasaran dengan kawah ini. tak lupa kami mengabadikan jejak kami disini. Dua kamera yang dibawa Tobes dan Yan’e menembaki dari berbagai angle. 

Sudah Siap Tempur
Tambang Belerang
Seorang bapak menghampri kami dan mengajak kami turun kebawah untuk melihat apa yang mereka  kerjakan di bawah sana. Kami sangat berterimakasih atas ajakanya tapi kami tidak membawa perlengkapan untuk bertempur di medan sana. Bapaknya memakai safety helmet dan masker filter double sedangkan kami hanya beberapa lembar masker 2 ply yang cuma bisa untuk menyaring debu. Belum lagi jalan menurun kebawah juga lumayan curam. Kalau terjatuh sudah tamat riwayat nanti. hihihi….

Cukup dengan kepuasan di sana, kami bergegas turun dengan jalur yang sama. Karena ingin melanjutkan perjalanan ke Bali. Beruntung adik kelas di kampus sudah mudik duluan, jadi bisa numpang istirahat di rumahnya. Hemm,,, mendengar kabar tersebut, semua girang dengan tawaran yang aku berikan. Rugi kalau udah sampai di siini tapi tidak melanjutkan ke Bali yang dari sini sudah terlihat pulaunya.



Dibawah, kami makan siang dengan menu yang sama. sudah tiga kali makan dengan menu yang sama tapi kami tidak merasa bosan. Kami juga bertemu dengan wisdom dari Surabaya juga sehingga ada yang di ajak ngobrol boso Suroboyoan. hehehe… Packing ulang, pamit dengan Bu Um, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke Banyuwangi via Licin. (Bersambung….)

Penculikan ke Kawah Ijen – Bali (Part I)

2 komentar pada “Penculikan ke Kawah Ijen – Bali (Part I)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *